Rabu, 03 Oktober 2012

SIM Mati???? Demi Pantai, SIM mati langsung dibawa ke Klinik Tong Feng (part 2, HABIS)

hey hey heyyyyyyaah. back to our story. nah, brooo kemarin kita udah nyampe di pantai Sundak dan pantai Wato kodok. pesona Gunung Kidul Yogyakarta udah menawan gue siang itu. hhhhmmmmm, kita lanjutkan ke pantai yang terakhir dikunjungi. kenapa yang terakhir??? karena anggaran yang dibawa pada saat itu cukup terbatas, yayayay . . . harus ngalah dengan anggaran naik gunung, preeeeetttt.

next, kita gas lagi ke pantai Drini. pantai Drini ini jaraknya cukup dekat dengan pantai Wato kodok. eh, tapi nggak juga lah ya. sedang-sedang saja. hehehehe. tapi feeling gue bilang kalau gue harus ke Drini. okelah, mari kita ke sana. dengan agak mempercepat kecepatan gue harus melewati jalur menuju pantai Drini yang lumayan sepi dan tandus.



YAAAHHHH, jalanan yang tandus sambil mutar lagu Ebit G A itu rasanya sesuatu banget, yah . . . luar binasaaaaa. tapi demi seseorang yang bernama Drini, kita gas terus lah. bayangkan saja keramahan pantai Drini sedang menanti kita di sana. yeeahhh. dalam durasi sekitar 20 menit, akhirnya deru ombak Drini mulai sayup terdengar di sela raungan motor gue, maksud gue . . . motor yang gue rental. langsung, biasanya mempercepat motor, kali ini gue lebih memilih memperlambat kecepatan motor karena gue pengen denger suara ombak dari jauh. lagian kondisi jalan juga nggak memungkinkan buat ngebut.

ingat, bro ingat. ini jalan rusak, bukan sirkuit Sepang buat moto GP. hooooo.

sesampainya di sana, hhhmmmm . . . aroma jagung bakar. hehehe. pengeeeeennnn. eiittsss normaaaaa . . . *plak plak plak. hahahah. di sini warungnya lebih banyak dan sepertinya juga lebih rame. emang bener rame. karena banyak perahu nelayan yang beroperasi di sini. sementara aktivitas pencarian rumput laut dari warga setempat sangat sedikit karena lebih didominasi oleh aktivitas mencari ikan. tapi pas waktu gue ke sana perahunya lagi markir.

di pantai Drini ini juga tebingnya lebih banyak dan ada akses untuk menuju puncak tebing, ada tangganya gan jadi ente-ente bisa naik dan melihat landscape alam Drini dari atas ketinggian. hhhmmmm, selain itu area pantainya juga lebih luas dari dua pantai yang tadi.



penyu mana penyu????? weheheh, nggak ada penyu men . . . yang ada hanyalah tetangganya penyu, nih

 tuan CRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAABBBBBBBBBBBB, kata sponge bob sambil koprol di pasir. heehehe.

oke, puas banget main di pantai, gosong-gosongan, bau asem keringat, basah ketek tapi jadi kering lagi karena derasnya angin, hahahah . . . saatnya pulang, mameeeeennn. waktu udah menunjukkan pukul setengah 2. prediksi nyampe mungkin pukul 3 sore lah, belum termasuk adegan-adegan nyasar dan bingung-bingung di jalan. wkwkwkwk. yo mari kita pulang.

alhamdulillah, perjalanan ke Gunung Kidul menikmati pantai yang sangat dirindukan akhirnya tercapai juga. insya Allah malam ini tidur nggak pake ngiler lah, karena pantai udah dilihat dengan mata kepala sendiri, plus telinga juga dah.

maen kita hari ini cukup sampai di Drini. kita harus pulang tanpa membawa uang kembali ke . . . perkotaan. hooaaahhh. alhamdulillah, selama mengarungi tamasya ini nggak ada kendala, selain haus karena emang salah gue sendiri gak bawa stok. lapar juga, karena terlalu mementingkan kondisi motor. khawatir kalau-kalau gue lebih mementingkan diri sendiri akhirnya motor pinjaman ini jadi banyak tingkah. hahahah, sekalian lah kau minum bensin saja norma, wahahaha.

ucapan terima kasih untuk Bapak rental motor, aiihhh lupa nama Beliau. hehehe, makasih juga buat Ibu Wainah yang berhasil jadi penumpang pertama gue selama ngojek dari Yk ke Wonosari. ehemmm, makasih juga buat Bapak-bapak petugas parkir yang mau motoin gue, juga buat Ibu-ibu pengisi bensin yang nunjukkin jalan ke Sundak. hhhhh, thanks ya Allah . . . thanks. semoga next time masih ada waktu untuk maen-maen kayak gini lagi. yeeahhhhh, hidup jiwa muda. ngeeekk. hehehe.

Jumat, 28 September 2012

SIM Mati???? Demi Pantai, SIM mati langsung dibawa ke Klinik Tong Feng



 Mantai . . . . .


Pantai . . . . pantai . . . . pantai . . . . saking pengennya ke pantai sampai-sampai plang yang bertuliskan Panti Asuhan juga diikutin dan ngebacanya jadi pantai asuhan. Next, jadi bahan pertanyaan . . . . dimana letak Pantai Asuhan. Ooooaahhhhh, demam pantai mulai melanda. Dan cara mengobatinya ya . . . pergi ke pantai, coy. Nah, Alhamdulillah . . . pendidikan di IPDN selama 4 tahun udah berakhir. Woooww, sesuatu. Boleh lah kita merayakannya dengan kembali backpacker gila-gilaan nggak tentu arah dan tujuan. Lagian, semua sudah direncanakan sebelumnya. Jauh sebelum bulan September itu datang dengan hari-hari pentingnya, gue udah mulai nabung. Wuih, emang gue udah niat banget pengen melampiaskan kerinduan pada ombak dan pasir putih juga panasnya yang khas, so nabung adalah kegiatan yang mau nggak mau harus dilakukan. Walaupun harus menahan hawa dan nafsu dalam kurun waktu 2 bulan belakangan demi pasokan dana kegiatan backpacker gak jelas ini. Hhhmmmm, agak lebay. Tapi ya itulah kalau kita udah senang . . . apa kata lo, nggak mungkin gue denger, hehehe . . . piiiisssss.

Okhai, tanggal 12 September gue naik kereta Lodaya pagi dari st. Hall menuju stasiun Tugu. Gue lupa tuh tiket jam brapa, kayaknya pukul 8 pagi lah ya dengan harga 110 ribu. Lodaya pagi yang seperti biasa selalu menyisakan beberapa kursi untuk para turis asing dan selalu ramai oleh para penjual pecel bila sudah memasuki stasiun-stasiun yang ada di provinsi Jawa. Ini kali ketiga gue naik Lodaya pagi, nggak ada yang istimewa hanya saja lamunan yang semakin meliar akan suasana pantai. Jiiiaaahhh, dan sudah pasti gue juga mikir. Entar di sana gue tidur dimana???? Berpikir keraaaaaasssss.

Perjalanan 9 jam yang diisi dengan 30% pasang headset, 20% ngobrol-ngobrol gak jelas, 25% minum air mineral sampe kembung dan sisanya tidur siang. Nyampe di st. Tugu udah ashar menjelang maghrib. Senja Yogya menyambut dengan keramaiannya yang hidup pelan merona ratap tanpa rasa tawar. Selalu ada suguhan menarik setiap datang ke negeri keraton ini, suguhannya adalah . . . ngantuk. Wahahahaha. Gimana caranya gue biasa numpang tidur, numpang makan dan numpang boker di Yogya dalam keadaan sehat walafiat dan aman sentosa sejahtera. 

Pada akhirnya malam itu terasa sangat panjang. Muter-muter di Yogya dengan rute paling berantakan dari yang pernah ada. Kenapa berantakan, karena Marlboro aja kayaknya udah 3-4 kali gue lewatin tapi belum juga dapat penginapan. Dan . . . masih dengan jalan kaki, gue nekat jalan ke alun-alun. Pake apa??? Sok-sok kuat, gue ke alun-alun dengan jalan kaki. Wkwkwkw, jadilah hari itu sebagai hari paling rempong sedunia. Nongkrong di alun-alun setelah shalat isya di Masjid Gede. Nah, tadinya gue pengen nginap di masjid Gede. Tapi . . . Marbotnya bilang gini: “Nggak bisa mbaaakkk . . . mesjid ne tutup pukul setengah 10.” Gue hanya bisa menelan paku, mor, baut dan barang pecah belah. Pukul 9 malam gue kembali move tanpa arah dan tujuan. Padahal kaki udah peyot dan bahu udah pegel manggul carrier. Asli, kayak jadi tukang jamu seharian nih. Hhhhmmm, gue sedikit menyerah. Hehehhe, ada lihat Bapak Tukang becak sedang rokokan, nganggur, nyanyi-nyanyi lagu Jawa dengan bersilang kaki. Pikir gue, nih Bapak tukang becak pantas jadi sasaran perampokan, hehehea. Terjadilah dialog yang temanya tentang gue yang hilang arah, dan mau numpang tidur, makan dan boker di Jogja. Untung aja Bapaknya gak bilang: “MASALAH BUAT GUEH???” wkwkwk. So, dengan sangat bersahaja, Bapak ini langsung ngasih gue rekomendasi Wisma Hidayah.

Hhhhmmm, sebelumnya gue sempat nemu penginapan yang letaknya dekat dengan SMK lupa namanya, hehehe. Pokoknya tuh SMK yang tema pelajarannya seni-seni gitulah, daerah Bantul pokoknya. Nah, nama wismanya Wisma Nusantara. Di wisma ini semalam harganya 80 ribu. Tapi tempatnya . . . . ckckckcck, hhhmmmmm. GALAU. Ukuran kamar aja udah sempit dan kamar mandinya yang di dalam lagi rusak. Selain itu tempat tidurnya empuk-empuk gak ikhlas gitu, hehehee . . . gue nggak tega tidur di sini. Akhirnya . . . keadaan seperti inilah yang bikin gue move ke kawasan Alun-alun Kidul.

Yup, back to the Bapak tukang becak story. Bapak ini merekomendasikan Wisma Hidayah. Nah, pas Tanya-tanya ternyata harganya juga 80 ribu sehari semalam. Gue jelas trauma, men. Muka pucat, mendadak mules, pengen pingsan, dan dengan langkah-langkah hampa, gue ikutin Mas-mas yang nganterin gue ke kamar yang 80 ribu itu. Ahhhh, rasanya pengen tutup mata, tutup hidung, tutup telinga, tutup pori-pori . . . nggak karuan pokoknya. Dan . . . . 

“Silahkan Mbaakkk.” Pengen sujud syukur lah detik itu. Sumpah, beda banget dengan 80 ribu versi Wisma Nusantara. Yang ini, kamar mandinya bagus, tempat tidurnya 2, ukurannya luas dan nyaman. Satu lagi yang unggul, letaknya dekat dengan Alun-Alun Kidul. Hanya berpaut 500 meter. Eaahhhh. Jadi juga gue numpang tidur, makan dan boker di Yogya. Oke, gue langsung bersih-bersih dan persiapan buat besok.

13 September 2012
Bismillahirrahmaniraahim. Target kita adalah Wonosari, kawasan Gunung Kidul yang ada banyak pantai. Sudah terbayang seharian main pasir dan memandang ke arah laut lepas. Bebaaassss. Meninggalkan wisma dalam keadaan bingung pas pagi-pagi pula, itu udah biasa. Menyusuri ruas-ruas jalan dengan titik-titik kebingungan yang semakin banyak. So, gue coba Tanya-tanya ke Bapak-bapak yang lagi nongkrong di angkringan. Menurut informasi dari yang bersangkutan, kalau mau rental motor . . . adanya di dekat stasiun Tugu. Okeh, mari kita hajar. On the way ke kawasan stasiun Tugu, terhenti di pangkalan tukang ojek karena bingung tempatnya dimana. Akhirnya gue nanya ke Bapak-bapak tukang ojek. Dan Alhamdulillah . . . . arah pukul 9 dari pangkalan ojek tersebut dengan jarak sekitar 200 meter adalah tempat rental motor. Yeahhh, lets rent hahahaha.

Tempat penyewaan lagi sepi. Gue hanya nemuin seorang bule yang lagi ngembaliin motor, dan keramaian di pagi itu sedang terpusat pada kegiatan eksekusi tanah yang TKPnya gak jauh dari stasiun Tugu. Nah, si Bapak yang ngurusin rental motor itu juga lagi seru-serunya nonton eksekusi tanah, ckckckckc. Sok heboh, yach. Hahaha, gak lama bapak itu balik dan kembali bertugas. Bapak yang berambut lurus dan gondrong ini *agak mirip dengan para personal band boomerang.* dengan ramah menanyakan maksud dan tujuan gue bertandang ke sini. Ya udah, gue bilang aja gue mau muter-muter Jogja dan butuh motor buat sehari ini.

Tadinya gue sempet shock. Pasalnya sebelum gue ketemu sama Bapak yang mirip personal boomerang itu, gue kan sempat ketemu sama isterinya dulu, nih. Isterinya bilang, kalau mau rental motor kudu ada uang jaminan sejuta. Alamaaaaakkkkkkkk. Segala bayangan tentang pantai di otak gue seolah pada kena tsunami semua. Apes banget kalau bener gitu, gue mana ada pegang uang sejuta. Lha duit di ATM aja gak nyampe sejuta. Duit di ATM Cuma cukup buat anggaran trip selanjutnya, yaitu ke gunung. Hoooaaaaa, otomatis muka gue mendadak galau gitu. Tapi ternyata . . .
 
“Beneran pak mesti pake uang jaminan sejuta?” Tanya gue dengan setengah mengiba, kalau perlu gue ngesot lah pas nanya tuh, wkwkwkwk. “Ah, nggak mbak. Cukup KTP sama bayar 60 ribu. 60 ribu itu tariff untuk penyewaan selama 24 jam.” Subhanallah . . . . thanks ya Allah . . . . hampir aja plan mantai gue gatot. “oke mbak, mana SIMnya.” Dengan PD gue tunjukkin SIM gue bersamaan dengan uang 60 ribu pas. Ternyata pemirsaaaaaa . . . .

“Woooalllaaahhh, SIMnya mati ki mbak.”

Jdaaarrrr . . .  jdaaaaarrrrrr . . . . prrreeeeeeeeeeeettttttt . . . . gubbbrrraaaaaaak . . . . ngeek

Kayak ada efek panggung srimulat di sekitar gue. Gue langsung tepuk jidat. Baru ingat kalau itu SIM gue, gue buat pas gue masih SMA, fotonya aja foto SMA. Pret banget lah.

“Yo wes mbak, gpp. Mbak berdoa saja semoga gak ada kegiaan razia hari ini.”

Gue langsung lemes. Dan bener-bener berdoa. Pasalnya hari ini tujuan gue bukan muter-muter Jogja tapi ke Wonosari. Hhhhhh . . . 


Tepat pukul 8, gue start dari depan rumah Bapak yang nyewain rental motor menuju belantara Jogja dan mencari jalan ke Wono sari. Bingung udah pasti, ketika bensin gue berkurang 1 liter, baru gue nemuin jalan ke Wonosari. Hahahaha, PARAH. Padahal gak segitunya juga kali, tapi ya itulah nyasar-nyasar. Hehehe. Alhamdulillah, otw Wonosari perjalanan gue dipermudah dengan adanya penunjuk-penunjuk jalan yang diletakkan secara strategis dan emang khusus diperuntukkan untuk orang-orang bingung kayak gue. Jadi, kawasan Wonosari lancar sampe Gunung Kidul. Dari Jogja menuju Gunung Kidul jalannya mirip-mirip kayak mau ke puncak. Bagi yang belum pernah ke Puncak Bogor, hhhmmmmm . . . okeh, agak-agak mirip dengan ruas jalan menuju Sumedang tapi jalannya lebih luas. Agak-agak ular dan sekitar yang banyak pohon-pohon meranggas dengan kondisi tandus. Lagi kemarau, brow

Nyampe di kawasan Gunung kidul dengan waktu 2 jam lebih. Itu pun pas ngisi bensin dan sambil nanya-nanya, kawasan pantai masih jauh . . . . wkwkwkwk, tancap. Mau mundur udah gak mungkin. Kita bereskan hari ini juga, guys.

Memasuki kawasan pantai dengan kondisi jalan yang mulai rusak dan penuh dengan batu-batu kecil. Di pinggir-pinggir jalan selalu Nampak bukit-bukit kecil. Wowwww, hehhe. Tujuan pertama gue adalah ke Sundak. Nah, di perjalanan mau ke Sundak . . . gue ketemu dengan Ibu-Ibu yang mengacungkan tangannya ke depan. Kalau insting gue bilang, sih si Ibu kayaknya mau nyuruh gue berhenti. Wah, gue curiga aja. Jangan-jangan, yaaaahhh. Maklum lah gue parno. Ini bukan Kalsel, mana motor gue rental, pake SIM mati pula, wkwkwkw. Tapi karena gak tega, akhirnya gue berhenti juga.

“Kenapa Bu?” Tanya gue. Dan si Ibu ngejawab pake bahasa Jawa. Ya iya lah gue langsung blank. So, Ibu itu segera merubah bahasanya menjadi bahasa Indonesia yang komplit dengan aksen Jawa. Ternyata Ibu pengen diantar ke pantai Sundak. Itu pun dia bilang setelah gue ngaku kalau gue mau ke Sundak. Beliau bilang kalau dia mau Ke Sundak buat nyari rumput laut. Okeehh, ibu langsung duduk di belakang gue. Dengan demikian gue punya guide buat ke Sundak. Coz, tujuan kita sama. Yeeahhhh. Sekitar 15 menit dari tempat gue ketemu sama Ibu tadi, akhirnya nyampe juga di Sundak.




Sundak sedang ramai oleh para pencari rumput laut. Katanya rumput laut ini dijual 1300/kg. pantai Sundak saat itu lagi sepi wisatawan, banyak warung-warung tutup dan hanya ada 1-3 warung yang masih beroperasi, itupun gak ramai. Maklum, bukan akhir pekan dan bukan hari libur. Tapi . . . sekali lagi, seninya menikmati pantai ya saat-saat sepi.

Senda gurau itu tiada. Semua lembut kosong semerbak tanpa aroma. Di kerumunan angin piawai membuai lekuk khayal, renung pilu koyak semampai jiwa. Ombak asa menimpa-nimpa. Hempas membabi buta. Lagi-lagi aku menguncup, sayup. Kembali bergolak pada kekacauan perasaan.
Bersikeras menjadi pemberani. Mencoba congkak pada ombak. Terbungkuk-bungkuk menahan terik, meski meleleh lembut piaskan karat kemauan diri. Demi esok dan seterusnya.

Sambil memainkan pasir putih, gue mengamati aktivitas para pencari rumput laut. Beberapa dari mereka juga ada yang mencari . . . namanya gue lupa, Erek apa ya??? Hahaha, sory, gue lupa namanya pokoknya model kayak bulu babi gitu lah.

Siang menjelang Djuhur saat itu, mendung menimpali perjalanan. Tapi sengatannya seolah sedang menahan dari beranjak. Kata hati, ingin tetap memiliki hari itu sampai aku benar-benar lelah dan pulang.

Setelah shalat djuhur di Sundak sambil menyantap mie goreng dan teh es manis, gue kembali melanjutkan perjalanan menuju pantai lain. Kali ini, dengan mengandalkan papan penunjuk arah, akhirnya gue mendarat di pantai Wato Kodok. Yup, kalau gak salah namanya begitu. Pantai ini mirip-mirip dengan pantai Sundak, ada batu besar di kanan dan kirinya dan juga ada aktivitas penduduk sekitar yang lagi nyari rumput laut. 

Tapi, meeennnn . . . jalan menuju Wato Kodok bener-bener keren. 



Untung aja gue rental motor biasa. Padahal pas ngerental gue sempet ditawarin naik motor matic. Hahaha, gue paling gak tega naik matic kalau kondisi medan kayak gini. Hehehe, bisa-bisa gue lebih milih jalan kaki, euy. Wkwkwkwk. Jalan menuju pantai Wato Kodok sangat sepi. Lengang, agak serem, sih. Tapi pas nyampe pantainya gue langsung ketemu sama Bapak-bapak penjaga parkir. Bapaknya udah tua dan ngomong pake bahasa Jawa tok. Hooooaaaaa, gue sok-sok ngerti dengan bilang inggih sambil manggut-manggut. Asli, sebenarnya gue gak ngerti artinya sama sekali.

Parkir hari itu bener-bener sepi. Cuma motor gue yang markir di situ. Hahahah, suasana pantai jangan ditanya lah. Semakin terpencil, maka semakin kaffah untuk dinikmati. 

Biarlah hari itu kita serakah. Menjadi penikmat tunggal kedalaman desingan bayu yang meratapi pesta pora ombak. Menikmati ini semua tanpa penghianatan, karena aku bukan dengan siapa-siapa. Aku hanya membawa egoku berjalan seirama ritme hatiku. Dengan telepati intim atas rasa kehilanganku, yang ingin kumiliki lagi walau harus kandas di saat nanti.



bersambung . . . . di Klinik Tong Seng, Wwkwkwkwkwwkw . . . .

Rabu, 29 Agustus 2012

Sekali lagi, bisa numpang pa**at di Garuda


Assalamualaikuuumm . . . . waaahhhh, udah Lebaran yaa. Gue selaku orang paling keren di Blog ini ngucapin Selamat Idul Fitri, gak papa ya telat dikit . . . maklum lah, gue sibuk banget akhir-akhir ini, sibuk tidur di bed wkwkkw . . . . maafin ya kalau selama ngeblogg udah bikin lo tersinggung atau bikin ngiri tingkat Eropa lihat foto-foto perjalanan gue . . . hehhe, tapi segala postingan gue ini nggak lain dan nggak bukan adalah demi mempromosikan bahwa Indonesia is Friends, Home and Mother. you must visit Indonesia, find different atmosphere, hahaha . . . pokoknya gue minta maaf banget sama para pembaca semuanya, baik yang biasa ngintip-ngintip blog gue, atau yang sengaja koment, atau juga yang sharing. heheeh, minal aidin wal faidjin.
Eny, sokab dan rekan seperjalanan menuju Jatinangor.


sorry banget sebelumnya, nih foto yang dipajang emang amit-amit banget yach, hahaha. Norma dan Garuda mengucapkan selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan bathin. yeaahhhh , , ,
             okeh, kembali melakukan perjalanan. perjalanan yang tentu saja agak lebay dan semakin lebat dnegan kata alay, hahaha. kali ini gue kembali dapat kehormatan untuk yang kedua kalinya bisa dengan bangga MENEMPELKAN PANTAT gue di kursi pesawat Garuda. hahaha, Alhamdulillah . . . masih ada umur di sisa-sisa waktu gue hilir mudik ke tanah perantauan, masih diberi kesempatan untuk numpang mantat di Garuda. subhanallah . . . TAKBIR!!!!!

             ini dalam rangka kembali ke Jawa Barat. kebetulan banget dapat tiket yang dipesan online dengan harga yang cukup bikin bibir gue yang seseksi Anggelina Jolie ini dan mata gue yang seindah Dian Sastro ini bisa kembali memukau setelah melihat harganya. dengan 528.000 perak, gue dan beberapa orang rekan sekampus gue akhirnya bisa nikmatin Garuda di ketinggian 2.675 dari permukaan hidung lo, hehehe, dari permukaan laut lah, beebb. ini untuk yang kedua kalinya setelah Garuda juga menemani perjalanan gue pulang ke Barabai beberapa waktu lalu dan dengan harga yang juga sama.

             well, dikomandani oleh Kapten Lorensius, Garuda terbang pagi-pagi banget sekitar pukul 7 pagi. eaaah, gue bisa lihat sunrise dari pesawat Garuda. alhamdulillah banget, gue dapat kursi 16A yang paling dekat dengan jendela dan 2 kursi di sebelah gue lagi kosong, so . . . menikmatinya pun bisa lebih kaffah, hehehea. dan seperti biasa, akalu naik Garuda selalu dikasih makan. pagi itu gue dikasih makan nasi kuning lauk ayam, porsinya gak kayak di rumah lah. kalau boleh jujur, nih porsi nggak gue banget. hehehe . . . porsi gue biasanya porsi tukang. wkwkwk. tapi alhamdulillah masih dikasih. berikut kondisi di dalam pesawat sebelum berangkat.

para petugas lagi ngecheck pesawat. mana tau ada tikus, kan. tikus bisa bikin pesawat delay lho.

 di bawah ini salah satu fasilitas Garuda. ada media buat dengerin musik, sosialisasi tekhnik keamanan dan buat muter film. waktu itu gue muter film Negeri 5 Menara. tapi nggak sampe habis, brow. nah, adegan yang ini pas Ayah Ibunya Alif lagi berdiskusi soal Alif yang mau disekolahkan ke PM Madani.

dikasih makan juga, walaupun porsinya posrsi artis. beeeuhhh, padahal yang makan tuh sebenarnya tukang, wkwkwwk. tapi alhamdulillah masih dikasih
              dan sekali lagi kita semua harus akui bahwa view dari ketinggian itu emang nggak pernah habis buat dibahas, sampe kapan pun akan tetap indah. hhhhmm, banyak yang bisa didapatkan dari berada di ketinggian. seperti ketika kita berada di pesawat. yang pasti kita bisa ngerefresh otak, karena pesawat bebas macet dan suguhan alamnya sangat menarik untuk diperbincangkan dan difoto tentunya. untuk yang lebih khusus, kita bisa mengenal jenis-jenis awan. wahaha, pelajaran jaman gue masih imut dan manis, wkwkwwk. jenis awan apa aja bisa lo temuin di pesawat, itu pun dengan catatan LO NGGAK TIDUR pas pesawat lagi terbang. kalau lo tidur, ya yang ada lo malah bikin awan baru di kursi lo, hwehehe . . . awan iler maksud gue, heheh.

             kalau pas gue terbang, ada awan-awan yang mengelilingi pesawat. pemandangannya mantab. ada awan cumulus, cirrus, heheeh . . . gue cuma ingat dua jenis awan itu, hahaha . . . pada lupa semua. so, coba dilihat foto-fotonya. mungkin ada awan-awan yang lo kenal.





             sip, lah. alhamdulillah . . . nyampe sampe tujuan. thanks banget buat Kapten Lorensius selaku komandan penerbangan. semoga entar bisa ketemu lagi di penerbangan yang sama dengan menu dan porsi yang berbeda. wkwkwk . . . dan spesial thanks untuk Allah Sang Maha Indah dan Maha Keren, untuk kesekian kalinya view ini kembali bisa dinikmati dengan sangat sempurna. sampai jumpa di petualangan alay berikutnya.

Rabu, 08 Agustus 2012

Adventure----------Indoor edition

Skill must go on
Dulu pernah menekuni bidang ini dalam waktu yang sangat singkat, tepatnya ketika gue masih menjabat sebagai layouter pers kampus. Kerjaannya gak jauh-jauh dari corel draw dan photoshop. Dulu demi bisa menguasai tekhnik-tekhnik edit gambar, gue bela-belain belajar sama senior dan beli bukunya. Yah, walaupun itu gak berlangsung lama. Tapi, di sela daya ingat gue yang terbatas, sedikit-sedikit kenangan singkat bersama photoshop masih terekam di otak gue.
Udah lama banget gue gak bersentuhan dengan magnetic lasso, smudge, brush, gradient, ketika menyentuh mereka lagi, rasanya nih, jari-jari pada kaku. Maklum lah, beberapa tahun belakangan ini hidup gue gak jauh-jauh dari sebuah software yang bernama MICROSOFT WORD, terlebih ketika gue harus berkenalan dengan makhluk asing yang bernama LA. Yah, lengkaplah semua tentang Photoshop harus gue hadapi dengan kekakuan.
Ada sedikit rasa rindu setelah sekian lama melupakannya. Padahal dulu cukup menggandrungi. Gue sempet begadang buat ngedit-ngedit foto, sampe mat ague perish-perih gak jelas karena harus bertatapan dengan radiasi, bahkan kawan sebarak gue ada yang sengaja belajar edit foto pake photoshop sama gue. Yup, semua itu harus gue rebut kembali. Karena biar bagaimana pun gue tetap anggap ini sebagai investasi buat hari tua. Minimal  buat hiburan pribadi.dengan berbekal laptop dan buku-buku tentang photoshop, yaahhh . .. mari kita mulai, coy.


Meet with my old friend                                                                      
Ibarat bertemu dengan teman lama, ada rasa kaku setelah lama gak berjumpa. Ada juga rasa segan. Jari-jari gue harus kembali beradaptasi begitu juga dengan mat ague, harus kembali terbiasa dengan radiasi. Karena kalau udah ngerjain ginian, biasanya jarak antara monitor dengan mat ague tuh, dekat banget.
Tapi, itu hanya ketika awal-awal. Seterusnya, lima hasil eksperimen gue dengan photoshop bisa kelar dalam waktu kurang lebih satu minggu. Itu pake acara begadang dan gak ada tidur siang, tapi jatah tidur siang gue, gue pindahkan jadi tidur pagi, hahaha… wajar lah, karena untuk mengerjakan editan foto yang sederhana aja gue harus bekerja keras, akibat terlalu lama gak make photoshop… hahah. check it, guys . . .
















Okeh, sesuatu banget bisa kembali merambah dunia yang hilang itu setelah hidup gue harus berbaur terus dengan huruf-huruf pada Microsoft word dan Laporan Akhir gue. Thanks buat Kang Ramdhan (senior gue di pers kampus) yang udah dengan sabar membimbing gue memahami photoshop dan buat Gede (rekan pers kampus) yang jadi langganan gue buat install photoshop di laptop gue. Hehehe . . . special thanks untuk Allah Maha Indah, sudah berkenan menganugerahkan kesempatan kedua untuk mengenal photoshop lagi dan berpetualang mengarunginya lagi.
Buat lo yang pengen nyoba juga, gampang aja. Tinggal beli bukunya, download tutorialnya, atau langsung dating ke gue. . . . hahaha. Sampai jumpa di petualangan alay berikutnya.

Jumat, 03 Agustus 2012

Bubur Sumsum Ala Barak Aceh Bawah


Masih ingat gimana hebohnya pembuatan Laporan Akhir. Subhanallah . . . jungkir balik karena revisi yang seakan-akan gak berkesudahan. Sampai hati dan otak ini bertanya-tanya, kapan nih, LA bereeesssss???? Berjuta serangan, dari aksara-aksara nan abstrak, tanda-tanda dan symbol-simbol yang udah kayak sandi, sampai kayaknya kita butuh banget buku panduan memahami primbon dan bentuk-bentuk alam agar bisa paham artinya, pasalnya . . . tulisan Dosen tuh, kayak lukisan realisnya para pelukis Yunani di jaman ulat Phyton, wkwkwkwkwkw . . . . PARAHHHH!!!!

GALAU udah jadi makanan sehari-hari. Dilematis banget, kompleks, rumit, kayak perawan dipaksan kawinan, ahahahah. Pokoknya babaliyut lah, dan seperti biasa . . . kejemuan selalu menghampiri mahasiswa tingkat akhir yang sedang menggarap sawah Bapaknya, hehhehe . . . ya menggarap Laporan Akhirnya lah, broer. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir jemu. Walaupun sebetulnya kita harus tetap fokus pada tujuan kita, yaitu menyelesaikan Laporan Akhir. Karena semakin cepat selesai, nih LA semakin cepat lulus dan semakin cepat juga pulang kampung. Hhhhhh, udah kangen banget sama suasana rumah.

Nah, di tengah kegalauan tersebut, muncullah inisiatif yang sangat jenius dan brilliant dari seorang kawan satu barak. Pas banget, ide tersebut didukung dengan adanya peralatan yang mendukung dan bahan-bahan yang memang sengaja disiapkan untuk menjalankan ide tersebut. Tepat di hari kamis, kita laksanakan ide tersebut. Pas banget, jadwalnya lagi puasa. Jadi ada kegiatan buat ngabuburit. Perkenalkan dulu, nih bahan-bahannya.

 



TKPnya di ruang belajar barak gue, lebih tepatnya di meja belajar milik Ulfa, temen gue asal Cimahi tapi ngerti bahasa Minang, hehehe. meja belajar inilah yang menjadi ranah eksperimental bikin bubur sumsum. meja belajar merangkap dapur. ada kompor listrik juga. maklum lah, udah tingkat 4 jadi barak nggak terlalu dicek. jadi boleh lah kita coba bawa kompor ke barak. hahaha . . .

Okeh, kita mulai, coy. Mulai dari mengiris gula merah. Gak ada talenan, kertas pun jadi, paling juga rasanya ada rasa kertas dikit, tapi itu bagian dari variasi, man. Hahahaha . . . 


Next, rebus air sama daun pandan, biar assoooyyyy aromanya, coy. Sebenarnya bisa juga ngerebus airnya pake kembang tujuh rupa, bunga kenanga atau bunga melati. Karena dengan begitu baunya akan lebih khas dan kuat. Hahahah . . . mulai gila.

Rebusan air dan pandan tadi dicampur sama gula merah.


Dilanjutkan dengan mempersatukan tepung rose brand, santan dan garam. Semoga mix, ya. 


Diaduk sampe berubah bentuk jadi bubur. 


Naaaahhhh, hitungan menit udah mau adzan magrib. Sempat lah kami nongkrong dulu di aquarium dan beres-beres.
Alhamdulillahhhh . . . berbuka puasa dengan bubur sum-sum dengan kawan sebarak. Moment-moment terakhir di barak emang harus lebih sering dinikmati, terutama kebersamaannya yang akan sangat dirindukan kelak.


Thanks buat Ulfa (Cimahi), Mbak Lisa (Demak), Teh Nenden (Cimahi) dan untuk Allah Sang Maha Indah. Sampai jumpa di petualangan alay berikutnya.